bab 2 data dan analisa - bab 2.pdf · data dan analisa 2.1 data dan literatur ... keberagaman dan...

Download BAB 2 DATA DAN ANALISA - bab 2.pdf · DATA DAN ANALISA 2.1 Data dan Literatur ... keberagaman dan multibudaya

Post on 08-Mar-2019

229 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB 2

DATA DAN ANALISA

2.1 Data dan Literatur

2.1.1 Tinjauan Pustaka

Data dan informasi yang mendukung Tugas Akhir ini diperoleh dari : - Buku Psikologi Abnormal (Jilid 1 dan 2) yang ditulis oleh Jeffrey S.Nevid,

Spencer A.Rathus, Beverly Greene (2005) Buku ini adalah buku teks pertama yang sepenuhnya mengintegrasikan

masalah keberagaman, perspektif teoretis, dan kandungan multimedia. Masalah keberagaman dan multibudaya tidak bisa dipisahkan dari diskusi mengenai berbagai kelainan/gangguan dan pengobatannya, sehingga materi-materi mengenai keberagaman sekarang dilebur ke dalam batang tubuh teks dan tidak dipisahkan ke dalam kotak khusus.

Berbagai perspektif teori disajikan dalam buku ini, sehingga diharapkan

bahwa mahasiswa tidak lagi menganggap hanya ada satu perspektif yang benar dan yang lain salah. Diperlukan suatu pemahaman yang mengaitkan interaksi antara faktor-faktor psikologis, sosiobudaya, dan biologis dalam menjelaskan banyak bentuk perilaku abnormal, termasuk gangguan kecemasan, gangguan disosiatif, gangguan mood, penyalahgunaan obat-obatan dan ketergantungan, dan schizophrenia.

- 280 Tanya Jawab Mengenai Kesehatan Mental oleh Dr.Surya Widya, SpKj

Merupakan buku panduan kecil terbitan Rumah Sakit Dr. Soeharto Heerdjan, dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan mental secara umum. Bertujuan memberi informasi bagi mahasiswa fakultas keperawatan, keluarga penderita gangguan mental, dan penderita gangguan mental sendiri mengenai kesehatan mental dari berbagai aspek dalam bentuk tanya jawab singkat.

- Introduction to Psychology, Clifford T. Morgan, Richard A.King, John R.weisz, John Schoppler,1986

Buku ini adalah buku textbook bagi mahasiswa jurusan psikologi, baik sarjana maupun pascasarjana yang memberi overview dari bidang psikologi itu sendiri.

- Pengantar Psikologi Umum, Sarlito Wirawan Sarwono, 2009

Merupakan buku acuan pokok bagi para mahasiswa jurusan Psikologi dan pemerhati umum, dengan bahasa yang terstruktur dan mudah dicerna. Membahas teori dasar psikologi, fungsi-fungsi psikis, interaksi, sampai gangguan mental, dengan pendekatan budaya Indonesia.

2.1.2 Literatur Internet

Referensi data dari internet diambil dari berbagai situs berikut:

- http://en.wikipedia.org/Website ensiklopedia online untuk umum paling besar. Penjelasan yang ada merupakan hasil kontribusi sukarelawan. Untuk mendapat sumber data yang lebih bisa dipertanggungjawabkan, dapat mengikuti link referensi dari halaman Wikipedia yang berkaitan.

- http://www.disorderscentral.com/Website yang menyediakan berbagai artikel mengenai gangguan-gangguan mental atau mental, dengan pendekatan umum yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

- http://counsellingresource.com/Website dari para psikolog dengan bahasan masalah psikologis yang lebih bersifat klinis. Membahas terapi, gejala, dan obat, serta menyediakan sesi tanya jawab yang lebih mengarah ke konseling dengan para psikolog.

- http://www.phobialist.com/ Membahas gangguan fobia secara spesifik, bagaimana penanganannya, asal penamaannya, daftar panjang dari fobia yang pernah diderita orang-orang, dan lainnya menyangkut fobia.

- http://www.helpguide.org/mental/ Memberikan pemahaman singkat pada masyarakat umum mengenai berbagai masalah kesehatan mental.

2.1.3 Artikel Pendukung

Kasus Gangguan Mental Ringan Meningkat

JAKARTA, KOMPAS.com Jumlah penderita gangguan mental di Indonesia saat ini, menurut data Departemen Kesehatan tahun 2007, mencapai lebih dari 28 juta orang, dengan kategori gangguan mental ringan 11,6 persen dari populasi dan 0,46 persen menderita gangguan mental berat.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Mental Indonesia dr Tun Kurniasih Bastaman, dr.Sp.KJ (K), menyatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi peningkatan jumlah penderita gangguan mental ringan. Secara umum, gangguan mental berat cenderung stagnan, justru yang ringan mengalami peningkatan, katanya dalam acara jumpa pers Konferensi Nasional Psikoterapi 2010, Sabtu (1/5) di Jakarta.

Faktor gaya hidup dan problematikanya, seperti tuntutan hidup dan persaingan yang semakin tinggi, menjadi pemicu banyaknya penderita gangguan mental ringan. Kebanyakan yang datang ke psikiater adalah orang yang depresi dan stres karena problem sehari-hari, kata dr Tun.

Orang yang menderita gangguan mental ringan memiliki ciri sering dilanda kecemasan, gangguan panik, sulit berkonsentrasi, serta gangguan tidur. Gangguan mental ringan bisa membuat seseorang jadi tidak produktif dan mengganggu hubungan sosial dengan orang lain. Karena itu, perlu dikonsultasikan kepada psikiater, tambah dr Tun.

Dia menambahkan, gangguan mental ringan dan berat memiliki definisi klinis yang berbeda. Kendati gangguan mental ringan bisa menetap, gangguan mental kategori ini tidak akan bergeser menjadi gangguan mental berat.

Saat ini masih banyak orang yang enggan memeriksakan diri ke dokter mental karena kuatnya stigma di masyarakat. Sebenarnya orang yang mengalami gangguan mental adalah orang yang sakit, sama saja seperti orang yang sakit diabetes atau jantung. Ada mekanisme biologinya. Karena itu, jangan dijauhi, tetapi diberikan pertolongan, ujar dr Tun.

Dalam ilmu mental, gangguan pada seseorang dilihat secara menyeluruh, baik psikis maupun fisik. Oleh sebab itu, pengobatan juga dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya obat-obatan, tetapi juga psikoterapi. (Sumber:Kompas.com)

http://www.duniapustaka.org/dunia-kesehatan/kasus-gangguan-mental-ringan-meningkat.html

Kesehatan Mental sebagai Prioritas Global

Saat ini lebih dari 450 juta penduduk dunia hidup dengan gangguan mental. Di Indonesia, berdasarkan Data Riskesdas tahun 2007, menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa. Berarti dengan jumlah populasi orang dewasa Indonesia lebih kurang 150.000.000 ada 1.740.000 orang saat ini mengalami gangguan mental emosional.

Mengingat besarnya masalah tersebut, setiap tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari

Kesehatan Mental Sedunia. Peringatan World Mental Health Day (WMHD) tahun 2009 merupakan Kampanye Kesadaran Global (Global Awareness Campaign) yang bertujuan untuk melanjutkan harapan menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas global (make mental health health issues a global priority).

Peringatan Hari Kesehatan Mental tahun 2009 mengangkat tema Kesehatan Mental di Pelayanan Kesehatan Primer. Menkes menyebutkan 7 alasan perlunya mengintegrasikan pelayanan kesehatan mental pada pelayanan primer, yaitu :

- Beban biaya dan psikis pada keluarga atas gangguan kesehatan mental sangat besar.

- Masalah kesehatan mental dan masalah kesehatan fisik saling terkait satu sama lain, tidak bisa dipisahkan.

- Kesenjangan ketersediaan perawat untuk gangguan mental sangat besar.

- Pelayanan kesehatan primer untuk kesehatan mental dapat meningkatkan aksesibilitas.

- Pelayanan kesehatan mental yang dilaksanakan pada pelayanan kesehatan tingkat primer dapat meminimalisasi timbulnya stigma dan diskriminasi terhadap masalah gangguan mental.

- Pelayanan kesehatan primer untuk kesehatan mental yang dilakukan di Puskesmas jauh lebih murah daripada biaya pelayanan di Rumah Sakit Mental / Rumah Sakit Umum.

Mayoritas individu dengan gangguan kesehatan mental yang dirawat pada layanan dasar menunjukkan hasil yang baik. Menurut Menkes, masalah kesehatan mental adalah masalah yang sangat mempengaruhi produktifitas dan kualitas kesehatan perorangan maupun masyarakat yang tidak mungkin ditanggulangi oleh satu sektor saja, tetapi perlu kerja sama multi sektor.

Direktur Bina Kesehatan Mental dr. H.M. Aminullah dalam laporannya menyatakan, pelayanan kesehatan mental di pelayanan primer dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan mental sehingga dapat segera tertangani. Beberapa Puskesmas di Indonesia telah berhasil menyelenggarakan pelayanan Keswa dan menjadikannya sebagai program prioritas.

Beberapa topik yang dibahas tentang :

- Talk show di TV dan Radio

- Talk show Psikologi Forensik

- Seminar dan Pameran

http://www.pusat-intelegensia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=30&Itemid=2

2.1.4 Wawancara dengan Narasumber

Untuk mendapat sudut pandang lebih dalam mengenai topik ini, dilakukan wawancara dengan Psikiater bagian Litbang Rumah Sakit Mental Dr. Soeharto Heerdjan, Dr.Pri. Berikut hasil wawancara dengan beliau:

-Apa kebanyakan pasien yang datang ke rumah sakit mental sudah tahu gangguan mental mereka?

Umumnya penderita gangguan mental tidak menyadari bahwa mereka sakit, yang terganggu oleh keadaan si penderita biasanya lingkungannya, keluarga, tetangga, atau temannya. Karena mereka tidak ada insight bahwa mereka sakit. Karena itu, umumnya mereka dibawa keluarga. Beberapa yang tidak bisa dibawa keluarga dijemput oleh rumah sakit.

-Menurut Bapak, pengetahuan masyarakat mengenai gangguan mental masih kurang?

Masih sangat kurang dan sebenarnya mereka sangat memerlukan pengetahuan tentang itu. Kami tidak menyalahkan masyarakat, karena pemahaman masyarakat mengenai gangguan mental masih terpengaruh budaya dan tradisi kita, jadi masyarakat masih menganggap gangguan mental itu akibat guna-guna, sihir, atau teluh. Bukannya kami mengabaikan hal seperti itu, tapi perlu diberikan edukasi bahwa pada saat ini, gangguan mental secara medis dapat diatasi, supaya penderita tidak dibawa setelah terlambat. Umumnya, bila ada anggota keluarga yang menderita ga